Kamis, 10 Oktober 2019

Sejarah Perkembangan industri 4.0

Istilah  Indonesia 4.0 pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Awal mula dari istilah ini adalah terjadinya revolusi industri di seluruh dunia, yang mana merupakan sebuah revolusi industri keempat. Dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi, karena perubahan yang terjadi memberikan efek besar kepada ekosistem dunia dan tata cara kehidupan. Revolusi industri 4.0 bahkan diyakini dapat meningkatkan perekonomian dan kualitas kehidupan secara signifikan. Yuk, kita bahas secara singkat mengenai sejarah dan apa itu Revolusi Industri 4.0.

Pertama-tama, mari kita bahas awal mula dari Revolusi Industri 4.0 terlebih dahulu. Mulai dicetuskan pertama kali oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman, pada tahun 2011 lalu di acara Hannover Trade Fair. Dipaparkan bahwa industri saat ini telah memasuki inovasi baru, dimana proses produksi mulai berubah pesat. Pemerintah Jerman menganggap serius gagasan ini dan tidak lama menjadikan gagasan ini sebuah gagasan resmi. Setelah resminya gagasan ini, pemerintah Jerman bahkan membentuk kelompok khusus untuk membahas mengenai penerapan Industri 4.0 .

Pada 2015, Angella Markel mengenalkan gagasan Revolusi Industri 4.0 di acara World Economic Forum (WEF). Jerman sendiri menggelintirkan modal sebesar €200 juta untuk menyokong akademisi, pemerintah, dan pebisnis untuk melakukan penelitian lintas akademis mengenai Revolusi Industri 4.0. Tidak hanya Jerman yang melakukan penelitian serius mengenai Revolusi Industri 4.0, namun Amerika Serikat juga menggerakkan Smart Manufacturing Leadership Coalition (SMLC), sebuah organisasi nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir di balik Revolusi Industri 4.0.

Saat ini kita berada di zaman dimana Revolusi Industri 4.0 baru saja dimulai. Lalu seperti apa sebenarnya Revolusi Industri 4.0? Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan, melalui jaringan internet. Sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan di pabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet.

Bila kita melihat kembali Revolusi Industri 3.0 dimana merupakan titik awal dari era digital revolution, yang memadukan inovasi di bidang Elektronik dan Teknologi Informasi. Ada perdebatan apakah Revolusi Industri 4.0 cocok disebut sebagai sebuah revolusi industri atau hanya sebuah perluasan atau pengembangan dari Revolusi Industri 3.0. Namun nyatanya, perkembangan Revolusi Industri 3.0 ke Revolusi Industri  4.0 sangat signifikan, hal baru yang sebelumnya tidak pernah ada di era Revolusi Industri 3.0 mulai ditemukan. Para ahli meyakini era ini merupkana era dari Revolusi Industri 4.0, dikarenakan terdapat banyak inovasi baru di Industri 4.0, diantaranya Internet of Things (IoT), Big Data, percetakan 3D, Artifical Intelligence (AI), kendaraan tanpa pengemudi, rekayasa genetika, robot dan mesin pintar. Salah satu hal terbesar didalam Revolusi Industri 4.0 adalah Internet of Things.

IoT (Internet of Things) memiliki kemampuan dalam menyambungkan dan memudahkan proses komunikasi antara mesin, perangkat, sensor, dan manusia melalui jaringan internet. Sebagai contoh kecil, apabila sebelumnya di era Revolusi Industri 3.0 kita hanya dapat mentransfer uang melalui ATM atau teller bank, saat ini kita dapat melakukan transfer uang dimana saja dan kapan saja selama kita terhubung dengan jaringan internet. Cukup dengan aplikasi yang ada di dalam gadget kita dan koneksi internet, kita dapat mengontrol aktifitas keuangan kita dimanapun dan kapanpun.

Selain Internet of Things, ada juga istilah Big Data yang berperan penting dalam Revolusi Industri 4.0. Big data adalah seluruh informasi yang tersimpan di cloud computing. Analitik data besar dan komputasi awan, akan membantu deteksi dini cacat dan kegagalan produksi, sehingga memungkinkan pencegahan atau peningkatan produktivitas dan kualitas suatu produk berdasarkan data yang terekam. Hal ini dapat terjadi karena adanya analisis data besar  dengan sistem 6c, yaitu connection, cyber, content/context, community, dan customization.

Proses tersebut dapat memberikan wawasan yang berguna bagi manajemen pabrik. Data diproses dengan alat canggih (analitik dan algoritma) untuk menghasilkan informasi yang logik. Data yang diproses tersebut juga dapat membantu mempertimbangkan adanya masalah yang terlihat dan tidak terlihat di pabrik industri. Algoritma pembuatan informasi harus mampu mendeteksi  masalah yang tidak terlihat seperti degradasi mesin dan kehausan komponen.

Indonesia pun saat ini mulai menggarap konsep Revolusi Industri 4.0 secara serius. Strategi Indonesia salah satunya, melalui Kementerian Perindustrian mecoba membuat sebuah roadmap bertajuk Making Indonesia 4.0. Sosialisasipun sudah disampaikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di beberapa kesempatan.

Bedah Jurnal Revolusi industri 4.0

Nama
Diva Wiera Buana
Judul
Pengaruh Era Revolusi Industri 4.0 Terhadap Kompetensi Sumber Daya Manusia
Nama Penulis
Leni Rohida S.Sos, M.SI
Metode
Metode Kualitatif, yang menekankan pada kedalaman hasil penelitian dimana peneliti terlibat langsung sebagai instrumen penelitian. Data yang diperoleh melalui studi literatur, wawancara dan praktek langsung.
Kesimpulan
Jurnal ini membahas mengenai pengaruh era revolusi industri 4.0 terhadap sumber daya manusia, sumber daya manusia yang dibutuhkan pada industri ini adalah yang memiliki kompetensi dalam pemanfaatan tekonologi digital. Sehingga dalam mewujudkannya diperlukan pelaksanaan program peningkatan keterampilan (up-skilling), atau pembaruan keterampilan (reskilling). Dalam penjelasannya sumber daya manusia yang diteliti disini adalah pegawai negeri sipil, karena menurut penulis pegawai negeri sipil adalah sumber daya manusia (SDM) yang sangat penting terhadap kompetensi yang dimiliki nya pada era revolusi industri ini. Penulis juga menjabarkan hasil dari penelitiannya mengenai alasan mengapa memilih Pegawai Negeri Sipil sebagai objek penelitian atau sasaran pada penilitian ini dengan membandingan dengan teori-teori yang sudah dijabarkannya pada bagaian tinjauan pustaka mengenai pentingnya kompetensi pada suatu individu di era revolusi industri 4.0 ini. Didalamnya juga dituliskan bagaimana kompetensi itu sendiri pada era revolusi industri 4.0 ini. Dengan hasil yang didapatkannya dengan metode yang digunakan, penulis mengatakan bahwa kompetensi pada era ini sangat penting dan harus dikembangkan karena dapat meningkatkan kinerja. Menurutnya bisa didapatkannya kompetensi tersebut dengan melalui pendidikan dan pelatihan kepada sumber daya manusia (SDM) yang ditunjukan pada penelitian ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga dalam hal ini penulis juga menjabarkan kaitannya kompetensi dengan kinerja. Kedua hal tersebut sangat berkaitan satu sama lain karena kompetensi itu sendiri dapat membantu meningkatkan kinerja dan menjabarkannya dengan teori kompetensi dan teori kinerja yang dibuat skema hubungannya diantara kedua hal tersebut. Oleh karena itu penulis menarik empat kesimpulan pada penelitiannya yaitu, pertama, karena adanya kompetensi dapat memprediksi perilaku dan kinerja. Kedua, kebutuhan untuk PNS bukan hanya persoalan teknis melainkan keterampilan non teknis juga sangat diperlukan seperti untuk memecahkan masalah, bersikap kritis, memiliki kemampuan negosiasi dan sebagainya. Ketiga, persoalan kompetensi dan kinerja merupakan masalah fundamental yang dihadapi oleh PNS. Terakhir penulis menyimpulkan bahwa kompetensi dan kinerja merupakan hubungan yang erat, dengan kompetensi yang baik akan menghasilkan kinerja yang lebih baik pula dalam bidang pekerjaan di era revolusi industri ini.