Hinamatsuri
Di Jepang terdapat banyak festival yang diselenggarakan, salah satu nya adalah Hina Matsuri.
Hinamatsuri adalah perayaan untuk memperingati “Girls day” ditanggal 3 Maret disetiap tahunnya. Hina Matsuri berasal dari kebiasaan Jepang kuno yang bernama Hina-nagashi, dimana jerami atau kertas boneka Hina ditempatkan dalam perahu yang dibawa menyusuri sungai ke laut (berharap bisa membuang nasib buruk). Setiap tahunnya, para keluarga di Jepang berdoa untuk kebahagiaan serta kesejahteraan bagi anak perempuannya di masa depan dan para orang tua biasanya membeli satu set boneka saat putri pertama mereka lahir.
Kebiasaan ini berawal pada periode Heian (749-1185). Para keluarga membuat sebuah step-altar yang terdapat boneka-boneka kaisar dan permaisuri. Semua boneka memakai pakaian Kimono saat periode Heian berserta aksesoris lainnya. Penyusunan boneka-boneka Hina ini berbeda di setiap wilayahnya namun biasanya tersusun dari lima sampai tujuh tingkat dan beralaskan karpet merah. Pada posisi teratas, terdapat kaisar dan permaisuri yang ditempatkan dengan layar berlapis emas di belakang mereka. Di tingkat kedua terdapat dayang tiga (“san-nin Kanjo”) yang membawa sake. Di tingkat ketiga terdapat boneka hina lima musisi (“gonin-bayashi”). Ditingkat keempat terdapat dua menteri (“udaijin” dan “sadaijin”). Pada tingkat kelima, tiga pelayan yang berdiri sebagai pelindung kaisar dan permaisuri. Di tingkat keenam, tersimpan peti untuk menyimpan kimono, laci, cermin berdiri dan set teh untuk upacara. Posisi bagian terbawah, tepatnya pada lapisan ketujuh terdapat boneka Hina yang memegang kotak makanan divernis, tandu dan sebuah kereta yang ditarik sapi.
Pada festival ini, para keluarga memiliki kebiasaan memakan “chirashi-Zushi” (sushi yang disebar) dan “sakura-mochi” yaitu cemilan yang terbuat dari tepung beras, pasta kacang manis dan daun ceri asin. “Hina-arare,” adalah kerupuk beras berwarna yang dibumbui dengan gula. Ada pula minuman pendampingnya, yaitu “shirozake,” yang terbuat dari beras yang difermentasi.
Pada masa ini, sangat populer di kalangan para orang tua yang mempunyai anak perempuan untuk memberi mereka satu set boneka Hina. Para keluarga berpendapat bahwa memajang boneka Hina pada bulan Februari adalah hal yang lebih baik dan menyimpannya sesegera mungkin setelah festival usai karena diyakini bahwa meninggalkan boneka tetap terpajang setelah tanggal 4 Maret bisa menyebabkan anak-anak perempuan mereka terlambat menikah. Serta boneka Hina tersebut menjadi sebuah ciri tertentu kepada sebuah keluarga dimana apabila disetiap rumah terdapat boneka Hina didalamnya berarti keluarga tersebut memiliki anak perempuan.
Daftar Pustaka
https://tensai-indonesia.com/perayaan-hina-matsuri-di-jepang/amp/ di akses pada 15 April 2017 pukul 21.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar